Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Januari 2015

Shadow

A shadow is an area where light from a light source is obstructed by an object. It occupies all of the space behind an opaque object with light in front of it. The cross section of a shadow is a two-dimensional silhouette, or reverse projection of the object blocking the light. Sunlight causes many objects to have shadows at certain times of the day. The angle of the sun, its apparent height in the sky causes a change in the length of shadows. Low-angles create longer shadows. (Wikipedia)

Menurut saya memotret bayangan adalah suatu hal yang menarik. Beberapa eksperimen dalam pemotretan bayangan membuat karakter yang berbeda-beda. Hal ini tergantung dari  sumber cahaya, waktu dan jenis object yang dibidik. Sumber cahaya dari lampu sanagat berbeda karakternya dengan sumber yang berasal dari sinar matahari. Sumber cahaya dari lampu bersifat tetap, panjang pendeknya bayangan tergantung pada jarak benda dengan sumber cahaya.  Demikian juga dengan cahaya matahari panjang pendeknya bayangan tergantung kepada waktu, setiap detik akan menghasilkan karakter bayangan yang berbeda pula.

Berikut ini hasil dari beberapa eksperimen dalam pemotretan bayangan dengan mengunakan kamera hp. (zen shinoda)














Kamis, 14 Februari 2013

Esplanade Theater at The Bay


Cukup letih kaki ini melangkah setelah berkeliling di Arab Street (Kampong Glam), naik BRT menuju ke Marina Bay sembari menyusuri Singapore River Side. Aku bersama 2 orang sahabatku Agung Bagus seorang drumer Jazz dan Al Hadi Hamrah seorang fotografer dari Singapore  menyusuri sudut-sudut kawasan Marina Bay.  Tidak henti-henti rasa decak kagum kawasan yang bersih, tertata dan indah ini, hingga aku tidak mau melewatkan sudut demi sudut spot untuk aku bidik dan membuang shutter count demi mendapatkan foto yang aku inginkan. Entah berapa shutter yang terbuang aku tidak peduli yang penting hasrat untuk mengabadikan tempat yang istimewa ini tersampaikan.

Masih di kawasan Marina Bay, setelah kami melakukan narsis ria di Merlion Park yang merupakaan Icon dari Singapura, kamipun melangkah menuju Esplanade.  Sebuah gedung yang sekilas mirip durian ini merupakan gedung seni di Singapura. Tidak perlu membandingkan dengan gedung kesenian yang kita miliki, yang rata-rata kurang terawat, dan senimannyapun tidak mendapatkan penghargaan seperti disini. Jangan salah jika Matah Ati juga pernah tampil disini dan mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat Singapura.

Aku melihat Al Hadi Hamrah tidak mengeluarkan kamera dari tasnya, mungkin karena dia sudah terlalu sering mengunjungi tempat ini sehingga tidak tertarik untuk memotret. Sementara Agung Bagus asik ngobrol denga Al Hadi yang juga menikmati tempat dan obrolan mereka. Dari top floor yang merupakan lantai paling atas terdapat taman dengan sudut yang agak gelap,  jarang fotografer membidik di spot ini. Aku mencoba untuk memotret kawasan Marina Bay dimalam hari dari sudut ini. Aktifitas dengan lalu lalang manusia-manusia yang terlihat ceria dan tanpa beban mengusik hati tuk bertanya, benarkah mereka tidak punya persoalan dalam kehidupan. Karena yang tampak adalah kebebasan finansial dan kehidupan kaum borjuis. Sempat berfikir juga apa kerja mereka dan berapa gaji yang mereka peroleh.

Mungkin ini adalah pikiran orang dari negara yang kaya tapi carut marut di pemerintahan sehingga pikiran melayang kemana-mana. Masih di top floor gedung Esplanade aku coba bidikan kameraku ke arah bawah dimana terdapat restoran out door dengan suasana yang indah dan romantis. Disekitar meja-meja yang penuh dengan orang-orang kaya menikmati makanan mahal, terdapat papan pengumuman  yang berisi jadwal pertunjukan seni. Terlihat dengan elok suatu aktifitas penasaran membaca isi pengumuman jadwal pentas yang akan dipertunjukan. Tanpa pikir panjang lagi aku bidikan kameraku kearah beberapa orang tersebut. Wow nice moment, dramatisir cahaya dan bayangan menambah elok suasana.

Beberapa jam kita di Esplanade kamipun berjalan turun dan meninggalkan gedung kesenian menuju ke hostel tempat kita menginap. Esplanade Theater at The Bay gedung seni yang luar biasa, kita sudah banyak SDM seniman,  hargailah mereka...














Senin, 26 November 2012

Dunia Fotografi


Dunia fotografi benar-benar membuat saya lebih banyak melihat dari sudut yang berbeda. Bukan hanya sudut bidik subject untuk di foto saja, lebih dari itu, kita menghargai sudut kehidupan yang tidak dilihat oleh masyarakat umum. Orang awam sering menilai aneh  melihat seorang fotografer, ketika  mencari subject buruannya. Kadang mereka berada di sampah, di pasar, dipinggir sungai, di tempat yang kumuh di jalan dan dimana saja yang mungkin dalam keseharian masyarakat tidaklah begitu penting dan cantik untuk di potret, tapi begitulah dunia fotografi.

Pada umumnya masyarakat menilai hobby fotografi merupakan hobby yang sangat mahal, karena harus memiliki kamera canggih dengan harga mahal. Padahal dunia fotografi tidak harus memiliki gear yang canggih. Bagi yang mempunyai permasalahan dengan dana anggaran, untuk sekarang ini banyak kamera canggih dijual dengan harga sangat terjangkau, bahkan beberapa toko menawarkan program cicilan. Jadi yang paling penting itu adalah sebuah karya fotografi, bukan gearnya. Gear hanya merupakan alat, sedangkan karya dan konsep berada di kepala, yang kita bebas untuk berkretifitas.

Hal yang membuat saya lebih memahami foto sebenarnya setelah saya bergabung dengan RKF (Rumah Kayu Fotografi-Bandung), sebuah komunitas yang berisi orang-orang yang luar biasa dalam karya tapi bersahaja dalam sikap. Bukan hanya itu saja, seperti bak ilmu padi yang makin berisi makin merunduk. Komuitas yang berasal dari kota Bandung ini ternyata beranggotakan bukan hanya di Indonesia saja. Yang tinggal diluar negeri juga merasakan keakraban, kehangatan dalam kekeluargaan yang bersahaja.

Komunitas ini juga bukan ajang memamerkan gear, justru sebaliknya mereka memaksimalkan hasil karya cipta meski memakai kamera poket yang sederhana. Di samping itu juga ide kreatif pada saat eksekusi memotret dan mengasah instink dengan selalu mencoba dan mencoba diajarkan kepada membernya. Dengan konsep belajar tanpa menggurui atau pamer alat, komunitas ini diterima disemua kalangan. Pelajaran yang paling baik adalah seringnya mencoba dan mengeksplorasi konsep kreativitas. Sehingga dengan banyak mencoba akan menemukan sesuatu yang baru dan menemukan karakter dan konsep foto kita.  (Zen Shinoda)





Rabu, 07 November 2012

Hunting di Pasar Gawok



Pasar Gawok merupakan pasar tradisional tertua di Sukoharjo, tempat favorit bagi para fotografer untuk hunting HI disini. Keramahan penduduk pasar menjadikan pasar tradisional ini sangat unik untuk di potret aktivitasnya. Bagi yang hobby kuliner, pasar Gawok menyajikan aneka jajan pasar tradisional yang harganya sangat murah. Saya sempat berfikir dari mana mereka dapat untung jika makanan yang mereka jajakan dibawah harga pasar tradisional lain. Supaya lebih penasaran berikut ini daftar kuliner yang patut kita coba di pasar Gawok : Soto Kwali Bu Ndari, sate kambing Pak Harno, Tahu Kupat, Mie Ayam & Bakso Pak Bejo
Es Buah Yu Yami, Pohong Alus / Gethuk (merupakan ciri khas Pasar Gawok, Kare dan masih banyak lagi jajanan pasar yang langka ditempat lain.

Saya belum mendapatkan literatur yang valid tentang kapan berdirinya pasar Gawok. Berdasarkan selentingan-selentingan orang-orang pasar, pasar Gawok sudah ada sejak jaman kerajaan. Pasar tradisional yang terletak di dusun Gawok, desa Geneng, kecamatan Sukoharjo, Jawa Tengah ini berada disekitar 2km dari Stasiun Kereta Api Gawok, 10km sebelah selatan kota Solo, 15km dari Klaten, dan 10km dari Solo Baru. Untuk akses menuju pasar Gawok sendiri saat ini sudah tidak ada jalur angkutan umum yang langsung menuju pasar Gawok sejak tidak dioperasikannya lagi Rute Bus SKA Jaya yang melalui pasar Gawok. Namun bagi Anda yang ingin mengunjungi pasar Gawok selain menggunakan kendaraan pribadi,kita dapat menggunakan kendaraan umum dari terminal Kartosuro naik bus PO. Sendang Mulyo turun di Stasiun Gawok kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek atau becak menuju pasar Gawok.

Alternatif lain untuk menuju pasar Gawok dapat kita tempuh dari Terminal Tirtonadi Solo naik bus jurusan Daleman/Baki, turun di termianl Daleman atau di samping POM Bensin Baki, kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek.

Mengingat Gawok merupakan pasar tradisional sejak jaman dulu, aktivitas pasarnyapun untuk di los tidak tiap hari. Mereka hanya beroperasi setiap PON dan LEGI. Kebetulan pas kita kesana selesai meliput Matah Ati bersama RKF yang paginya pas dengan pasarannya, jadi seperti pepatah "keberuntungan hanya milik fotografer" hehehe maksa boss...

Hunting dipasar Gawok kali ini masih bersama teman-teman Rumah Kayu Fotografi (RKF) Bandung. Masih dalam formasi lengkap dari Jatim, Jateng, Jabar dan DKI, kami berburu Human Interest sembari main candid antar fotografer itu sendiri. Suasana akrab dan gembira terlihat dari masing-masing fotografer. Kami berangkat pagi sekali sekitar pukul 06:30 dimana suasana pasar belum rame. Satu persatu pedagang menjajakan dagangannya, aktivitas ini sangat unik karena biasanya pasar hanya sebagai tempat berjualan saja akan tetapi pasar Gawok juga sebagai tempat produksi pandai besi. Berbagai peralatan pertanian dan peralatan dapur di buat disitu seperti cangkul, sabit, kampak dan lainnya.

Selain kuliner, hewan, dan sesuatu yang unik di luar pasar dekat jembatan juga ada yang jual sepeda tua dan aksesoris tuanya. Saya melihat Pak Fendi membeli sedel Gizele, sedel untuk sepeda tuanya. Saya tertarik memotret setiap detail dan bagian aksesoris sepeda tua, karena selain unik dulu pernah pengen sepeda tua pas masih tugas di Kebumen sampai sekarang belum keturutan.

Sekitar pukul 10:00 semua teman istirahat di belakang kios pasar, terlihat pak Mohamad Setiawan sedang bercukur rambut sama bapak-bapak tukang cukur. Hasil guntingannyapun tidak kalah sama salon yang ada di Jakarta langganan pak Mohamad Setiawan. Beberapa fotografer narsis-narsisan sambil istirahat, suasana ceriapun nampak diwajah mereka. Sehabis pak Mohamad Setiawan bercukur, kita ngobrol dengan bapak-bapak tukang cukur tersebut. Sampai pak Fendi dan pak Paul datang dan menjadikan tukang cukur tersebut sebagai model. Lucu memang tapi sangat menggembirakan suasana saat itu, karena ternyata fotojenik juga bapak tukang cukur tersebut. Sampai akhirnya kita bubar melanjutkan hunting di Kauman dan berpisah dengan rombongannya pak Paul dan tante Mei Adisuko.

Bagi para fotografer yang hobbynya nyetrit, pasar Gawok merupakan tempat yang rekomended untuk di singgahi. Tapi ingat aktivitas mereka hanya di PON dan LEGI, karena selain hari pasaran itu los pasar akan kosong dan kita tidak akan mendapatkan moment menarik. Selamat nyetrit..


































Narasi dan Foto : Zen Shinoda