Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 November 2012

Little India

Litlte India merupakan pusat komunitas India di Singapura. Dahulu tempat ini adalah rawa dan padang rumput untuk ternak. Dan sekarang berkembang menjadi kota kecil di Singapura yang lebih tertata dan berbudaya. Perjalanan ke Little India dari Bugis dengan berjalan kaki, memang lebih nyaman berjalan kaki untuk mengeksplor kawasan ini. Karena kita bisa dengan detail mengabadikan dan memotret sudut-sudut kota budaya di Little India ini.

Bila kita berjalan dari Bugis, kita akan menyusuri jalan Syeh Alwi Road. Diujung jalan Syeh Alwi Road terdapat Mustafa Centre, sebuah pusat perbelanjaan 24 jam di Little India. Saya pikir semua orang akan mengenal Mustafa Centre karena memang sudah sangat terkenal.

Diujung pertigaan jalan Syed Alwi Road, menyambung Serangon Road. Bila kita menyusuri Serangon Road kita akan menemukan tempat ibadah Aquila Mosque sebuah masjid dan Sri Veeramakalliamman Temple yaitu kuil tempat memuja orang Hindu di Singapura. Didalam kuil terdapat banyak altar pemujaan dan pendeta-pendeta Hindu yang melayani ibadah umat Hindu Singapura. Beberapa kali saya memotret moment sembahyang mereka dan detail arsitektur kuil yang seolah-olah berada di India.

Selepas dari kuil pemujaan Sri Veeramakalliamman Temple, saya menyusuri jalan yang nama-namanya sangat unik. Ada Kerbau Road dan Buffalo Road, sebuah nama jalan yang sebenarnya artinya sama. Berdasarkan informasi dari Al Hadi Hamrah, Kerbau Road dan Buffalo Road dahulunya merupakan tempat menggembala kerbau di padang rumput dan persawahan di Little India ini. Sehingga nama jalanan menggunakan nama Kerbau.

Masih di Serangoon Road di Little India juga terdapat pusat perbelanjaan selain Mustafa Centre yaitu The Verge. Belum sempat mampir ke situ karena memang tujuan kita mengeksplor kawasan bukan belanja, karena memang pada dasarnya bokek gak punya uang hehehe..


















(Photo by Zen Shinoda)

Changi Airport Terminal



Pukul 10:30 waktu Singapura aku tiba di bandar udara Changi Singapura. Mungkin ini potret ternekat yang pernah saya lakukan, sebab Changi adalah bandara yang pengamanannya super ketat. Sangat tidak mungkin kalau melakukan pemotretan dengan DSLR, karena hal ini akan memancing perhatian security. Yang paling aman adalah memakai poket atau kamera HP, sebab salah sedikit saja kita akan ketahuan sama petugas bandara dan akan diberi sanksi atau dideportasi kembali ke tanah air. Kecuali memang kalau niat karena bokek gak punya uang, dan memilih kembali ke tanah air dengan gratis.. hehehe

Changi International Terminal Airport terltak di ujung timur pulau Singapura dan merupakan salah satu fasilitas penerbangan terbaik di Asia dan dunia. Bandara ini dikelola oleh Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS). Bandara Changi juga merupakan pangkalan Singapore Airlines, SilkAir, Valuair, dan Tiger Airways.

Bandara Internasional Changi Singapura memenangkan penghargaan Airport of the Year 2006 oleh Skytrax dan berhasil mengalahkan saingan ketatnya, Bandara Internasional Hong Kong, yang memenangkan penghargaan sebanyak 5 kali berturut-turut, dari tahun 2001-2005, dimana saat itu Changi hanya berhasil menjadi runner-up.

Bandara udaranya yang sangat canggih dengan arsitektur Hi-tech yang lebih ramah lingkungan dan minim maintenance dan efektifnya pelayanan nampaknya menjadikan Bandara udara ini terasa nyaman dan aman bagi pengunjung. Petunjuk dalam bandarapun sangat jelas sehingga meminimkan orang luar tersesat.

Banyak fasilitas yang menyamankan pengunjung mulai dari kursi yang bisa memijat, access internet kecepatan tinggi dan informasi yang sangat familier bagi pengunjung.

Terminal 3 Changi International Airport
Tidak lupa sebelum ke Bugis aku dan Al Hadi Hamrah singgah sebentar di terminal 3 Changi International Airport. Terminal 3 merupakan ini merupakan terminal terbaru yang mulai beroperasi pada tanggal 9 Januari 2008, dengan desain lebih modern daripada kedua terminal sebelumnya dan memiliki beberapa fasilitas seperti Hard Rock Cafe, Butik BVLGARI, Gucci, Hermes, pusat makanan, Crowne Hotel, taman kupu-kupu dan bioskop mini. Beberapa maskapai berada di Terminal 3 ini, di antaranya: Singapore Airlines, China Eastern Airlines, Jet Airways, Qatar Airways dan United Airlines.Garuda Indonesia mulai 22 Februari 2011 memindahkan operasionalnya ke terminal ini, dari Terminal 1.

Budget Terminal
Terminal maskapai murah, atau yang lebih dikenal sebagai Budget Terminal, terletak terpisah dengan kedua terminal yang ada. Terminal ini dipakai mulai dari bulan Maret 2006. Penumpang harus menggunakan tangga dan berjalan di atas tarmac. Hal ini berbeda dengan kedua terminal yang lain, di mana penumpang dapat menggunakan jembatan udara atau airbridge. Para penumpang yang akan transfer ke penerbangan lainnya juga harus melalui proses imigrasi.
Terminal ini dipakai oleh:
Tiger Airways
Cebu Pacific Air

























(Sumber infomasi : observasi dan Wilkipedia. All foto oleh Zen Shinoda)

Senin, 22 Oktober 2012

Masjid Sultan di Singapura

Ketika saya sampai di Bugis, bersama kedua temanku Agung Bagus dan Al Hadi Hamrah menyempatkan diri singgah di kawasan Arab, tepatnya di Kampong Glam Singapura. DI Kampong Glam terdapat bangunan masjid yang besar, Masjid Sultan namanya. Berdasarkan Wilkipedia struktur awal masjid ini dibangun sekitar 1826 oleh masyarakat Jawa yang kebanyakan pedagang awal di Singapura, yang menjalankan aktivitas perdagangan dengan masyarakat Arab, Boyan dan Bugis sebelum kedatangan saudagar Tionghoa. Bangunan masjid itu menjadi tempat tinggal atau kawasan permukiman awal beberapa etnik masyarakat Indonesia.

Kemudian pada 1920-an ia dibangun kembali seperti sekarang. Dan kini ia telah direnovasi dan ditetapkan sebagai produk pariwisata Singapura. Nama asli jalan-jalan berdekatan masjid tersebut seperti Kandahar Street, Baghdad Street, Arab Street dan Bussorah Street masih diabadikan.

Arsitek Denis Santry dari Swan and Maclaren yang merancang masjid baru tersebut untuk dibangun di atas lahan masjid lama dan lahan tambahan dari keluarga kerajaan. Seluruh pembiayaan juga di tanggung keluarga Sultan denga kontribusi dari komunitas muslim Singapura kala itu termasuk sumbangan botol kaca hijau hijau dari kaum miskin ketika itu. Botol botol yang kemudian di jadikan ornamen bawah kubah masjid. Arsitek Denis Santry mengadopsi gaya Sarasenik atau gaya Gotik Mughal lengkap dengan menara menggantikan masjid lama yang berarsitektur Indonesia pada masjid sebelumnya. Pembangunan masjid baru tersebut selesai dikerjakan tahun 1928. Perbaikan dilakukan tahun 1960 untuk memperbaikan ruang utama masjid dan tahun 1993 masjid Sultan Singapura dilengkapi dengan Auditorium dan aula serbaguna.

Hingga kini masjid sultan Singapura masid berdiri kokoh di tempat dimana dia pertama kali didirikan, menjadi salah satu masjid tetua dan terbesar di Singapura dengan daya tampung mencapai 5000 jemaah. Masjid Sultan Singpaura kemudian mendapatkan pengakuan dari pemerintah Republik Singapura para tanggal 14 Maret 1975 sebagai national monument. Dan statusnya pun kini dimiliki dan dikelola oleh Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS).

Masih dari kawasan Kampong Glam terdapat penjual sovenir dan kafe milik orang arab dan melayu. Bahkan Rumah Makan padang pun ada disana, bersama kedua orang teman saya kami menyusuri lorong-lorong jalan menikmati keindahan dan ketenangan Kampong Glam.

Entrance ke Kawasan Kampong Glam

Masjid Sultan

View dari Arab Strt

Kubah dan Lampu Masjid Sultan

Entrance Kampong Glam from Inside

Sovenir di Kawasan Masjid

Sebagai Tempat Edukasi

Siswa yang Sedang Riset


Area Wudhu

Interior Masjid